Minggu, 10 Mei 2015

Menolak Lupa: Tragedi Mei 1998

Kita tengah disodori calon presiden yang membawa catatan hitam peristiwa Mei 1998. Keji, kejam dan brutal sekali Jakarta kala itu. Hampir 16 tahun tragedi itu lewat, seiring waktu sebagian kita mungkin lupa, tapi sebagian yang lain, terutama para korban, mungkin hingga kini masih harus berjuang melawan trauma. Penjarahan, pembunuhan, pemerkosaan dan pembakaran yang sampai sekarang belum jelas siapa di belakang itu semua. 

Dua nama yang dianggap paling berperan: Prabowo & Wiranto. Kini, ditengah ketidakpastian hukum atas tragedi itu, mereka berdua justru maju menjadi Calon Presiden dengan tunggangan politik masing- masing.

Rasanya, ragu untuk memilih mereka jika peran mereka kala itu belum diadili. Sebagus apapun mereka bersalin rupa, sepanjang belum diungkap peran dan tanggung jawab mereka, Prabowo dan Wiranto tetap akan jadi bagian dari peristiwa berdarah yang membunuh empat demostran dari mahasiswa Universitas Trisakti itu. Saya bukan bermaksud mendiskreditkan kedua tokoh ini, pun tidak pula menjadi bagian praktik cacat demokrasi yang menyerang personal dan dosa masa lalu. I am no one. Tanpa afiliasi pada kelompok tertentu. Saya (mungkin) hanya mencoba menjadi corong dari suara yang tak bergema, suara mereka yang kehilangan harapan akan keadilan.

Harian Umum Kompas edisi 25 Agustus 1998 menjadikan pemberhentian Prabowo dari Militer sebagai berita utama. Bagi beberapa pihak mungkin pemberhentian itu adalah jawaban atas rasa gelisah yang disebabkan dugaan penculikan demonstran Mei 1998 oleh Prabowo. Namun, sulit memungkiri bahwa hal tersebut tidak serta merta menghapus sangkaan yang kadung melekat padanya. Ia tidak pernah diadili, disidangkan ataupun divonis apapun atas itu. Termasuk pula Wiranto, yang saat Mei 1998 justru meninggalkan Jakarta menuju Malang, ditengah kekacauan dan kerusuhan melanda Ibukota.

Saat itu, rezim yang berkuasa memang sangat represif. Manuver politik tangan besi ala Soeharto telah membungkam segala suara kebebasan dan kebenaran. Bila disebutkan bahwa Prabowo dan Wiranto hanya korban politik sebagai aparat yang menjalankan perintah. Maka tugas besar negeri ini adalah mengungkap siapa dalang besar pencetus keputusan yang kontraproduktif dengan prinsip hak asasi manusia itu. Mereka harus diseret ke muka hukum beserta semua pelaku dengan alasan apapun. Termasuk Prabowo dan Wiranto. Sebab, inilah kesempatan dan jalan bagi mereka untuk menjawab segala sangkaan yang telah hampir 16 tahun ditujukan ke mereka.

Prabowo dan Wiranto, bagaimanapun, adalah bagian dari rezim orde baru yang memainkan peran penting di panggung besar kala itu. Mereka sebagai pribadi atau sebagai tokoh tidak bisa dilihat secara terpisah. Mereka membawa etika sebagai pejabat publik yang harus mampu menjawab semua sangkaan atau tuduhan dosa masa lalu sebagai syarat untuk dapat diterima oleh kaum yang menolak lupa. Tunggangan politik mereka kini, memang membawa harapan, terutama Prabowo dengan program kerakyatan yang ingin kembali me-macanasia-kan Indonesia. Namun, maju kembali ke panggung negeri sebagai politisi tentu akan lebih etis bila terlebih dahulu mereka didudukkan untuk diadili.

Tentang Soe Hoek Gie


Biografi Soe Hok Gie. Sosoknya sangat terkenal karena tulisannya yang sangat kritis terhadap pemerintah orde lama dan orde baru meskipun ia meninggal dalam usia muda namanya sangat dikenal dikalangan para aktivis karena tulisan-tulisan dan pemikirannya yang sangat fenomenal. Soe Hok Gie adalah Orang keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit seorang novelis dengan Nio Hoe An. 

Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, Soe Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok Djie yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman. Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta.
Profil dan Kehidupan Soe Hok gie Ketika Kecil
Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Menurut seseorang peneliti, sejak masih Sekolah Dasar (SD), 

Soe Hok Gie bahkan sudah membaca karya-karya sastra yang serius, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Mungkin karena Ayahnya juga seorang penulis, sehingga tak heran jika dia begitu dekat dengan sastra.

Sesudah lulus SD, kakak beradik itu memilih sekolah yang berbeda, Hok Djin (Arief Budiman) memilih masuk Kanisius, sementara Soe Hok Gie memilih sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Strada di daerah Gambir. Konon, ketika duduk di bangku ini, ia mendapatkan salinan kumpulan cerpen Pramoedya: 

“Cerita dari Blora” —bukankah cerpen Pram termasuk langka pada saat itu?

Pada waktu kelas dua di sekolah menangah ini, prestasi Soe Hok Gie buruk. Bahkan ia diharuskan untuk mengulang. Tapi apa reaksi Soe Hok Gie? Ia tidak mau mengulang, ia merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya, ia lebih memilih pindah sekolah dari pada harus duduk lebih lama di bangku sekolah. Sebuah sekolah Kristen Protestan mengizinkan ia masuk ke kelas tiga, tanpa mengulang.

Selepas dari SMP, ia berhasil masuk ke Sekolah Menengan Atas (SMA) Kanisius jurusan sastra. Sedang kakaknya, Hok Djin, juga melanjutkan di sekolah yang sama, tetapi lain jurusan, yakni ilmu alam. Selama di SMA inilah minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam, dan sekaligus dia mulai tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadaran berpolitiknya mulai bangkit. Dari sinilah, awal pencatatan perjalanannya yang menarik itu; tulisan yang tajam dan penuh kritik.

Ada hal baik yang diukurnya selama menempuh pendidikan di SMA, Soe Hok Gie dan sang kakak berhasil lulus dengan nilai tinggi. Kemuidan kakak beradik ini melanjutkan ke Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih ke fakultas sastra jurusan sejarah , sedangkan Hok Djin masuk ke fakultas psikologi. Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.

Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.

 Naik Gunung dan Mendirikan Mapala UI


Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.

Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.

Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:

 “...Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Wafatnya Soe Hok Gie di Semeru

Tanggal 8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.
Makam soe Hok Gie

24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi
dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.

 Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:

 “.... Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

 “....Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

 “.....Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”

Selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan,

Di Bawah Lentera Merah (yang ini saya belum punya) dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.
Tahun depan Mira Lesmana dan Riri Reza bersama Miles Production akan meluncurkan film berjudul “Gie” yang akan diperankan oleh Nicholas Saputra, Sita Nursanti, Wulan Guritno, Lukman Sardi dan Thomas Nawilis. Saat ini sudah memasuki tahap pasca produksi.

Catatan Seorang Demonstran

John Maxwell berkomentar, “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. “Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya. Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan lebih mengenal Soe Hok Gie” tuturnya.

Kata Kata Bijak Soe Hok Gie
Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.

Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.
Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.

Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.
Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.

Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi "manusia-manusia yang biasa". Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.

Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.

Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.
Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?

Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis…

Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.

Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.
Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.

To be a human is to be destroyed.

Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.
Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.
I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist.
Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.

Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.

Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya.

Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.


Sabtu, 09 Mei 2015

Dasar-Dasar Intelijen : Mengenal Intelijen

Profesi Intelijen

Menjadi petugas intelijen mungkin bukan cita-cita yang diucapkan sebagai jawaban dari pertanyaan bapak\ibu guru kepada siswa-siswinyanya. Dapat dipastikan, dokter, insinyur, pilot, atau tentara yang paling umum menjadi jawaban.

Profesi intelijen memang unik. Intelijen mempunyai prinsip kerja “berangkat tugas dianggap mati, berhasil tidak dipuji, gagal dicacimaki dan diinterogasi, hilang tidak dicari, mati tidak diakui” dan sekarang ditambah lagi gua frase “kaya dicurigai, miskin salah sendiri”.  Dengan prinsip seperti itu seharusnya orang normal enggan memilih profesi intelijen. Namun tetap saja ada orang tertarik menjadi petugas intelijen,  tergila-gila menjadi seorang intelijen, bahkan mengaku-aku sebagai agen intelijen.

Negara tentu saja membutuhkan intelijen. Hal ini disebabkan ancaman terhadap eksistensi suatu negara tidak bisa ditebak kapan datangnya. Sekarang hampir semua organisasi juga membutuhkan intelijen. Dalam dunia bisnis sekarang mucul istilah bussiness intelligence. Ini adalah suatu fase dimana intelijen bukan dianggap sebagai kegiatan menakutkan dengan citra orang tegap, berjaket kulit, pistol dan HT dipinggang, mengendarai Toyota Hardtop, tetapi intelijen sudah dianggap sebagai ilmu yang dibutuhkan banyak pihak.

Apakah syarat dasar yang diperlukan untuk menjadi seorang petugas intelijen?
  1. Merujuk pada asal kata intelligence, maka seorang intel harus cerdas dan tentu saja waras, kecerdasan di atas rata-rata diperlukan oleh seorang intel untuk menjalankan tugas diluar norma-norma umum, taktis dalam mengambil keputusan, mempunyai siasat, dan tidak boleh diketahui oleh orang lain.
  2. Setia kepada negara, nasionalisme dan patriotisme sangat kuat. Intelijen yang tidak setia kepada negara akan berubah status menjadi pemberontak atau separatis, bukan intelijen.
  3. Sehat, tugas seorang intel selain melakukan analisis juga bertugas di lapangan untuk itu diperlukan kondisi fisik yang prima, bahkan akan sangat membantu jika mempunyai kemampuan bela diri.
  4. Mampu beradaptasi dengan cepat, tugas seorang intel sangat dinamis, kadang harus bergaul dengan para pengusaha, kadang juga harus bergaul dengan pemulung, Jika tidak mampu beradaptasi dengan cepat maka petugas intelijen bisa stress dan menyusahkan organisasinya.
  5. Mampu menyimpan rahasia, seorang inte harus mampu menjaga rahasia, bahkan dalam kondisi dirayu ataupun disiksa tetap harus dijaga. Tugas yang dipercayakan kepada seorang intel adalah tugas istimewa yang tidak bisa dilakukan orang biasa, jika intel mudah membuka suara maka keistimewaan itu akan hilang
Manfaat Ilmu Intelijen

Masih beranggapan bahwa intelijen itu miliknya militer dan polisi? Sebaiknya cepat-cepat buang anggapan itu karena sudah tidak relevan lagi. Intelijen sebelum membumi menjadi sebuah taktik dan strategi perang sudah dilakukan oleh masyarakat biasa yang tidak melakukan perang. Bagi pembaca karya-karya Karl May tentang Winnetou Kepala Suku Apache tentu akan sangat menimmati alur cerita yang banyak mengandung strategi intelijen. Terlepas cerita tersebut hanya sebuah fiksi atau imajinasi tapi ini sedikit menggambarkan bahwa kehidupan Suku Indian penuh dengan strategi intelijen.

Lebih dekat lagi mari kita menengok saudara-saudara kita suku dayak di pedalaman yang menggunakan strategi intelijen dalam kehidupan sehari-hari, saudara kita suku dayak melakukan pengintaian saat berburu, mereka berjalan berhati-hati tidak menimbulkan suara. Ketrampilan masyarakat suku dayak ini tentunya sangat layak dipelajari oleh siswa di Pusdikintel.
Penggunaan ilmu intelijen di kalangan militer sangat jelas karena salah satu kegiatan militer adalah perang. Ilmu intelijen sangat diperlukan untuk mengetahui gerakan musuh sehingga bisa direncanakan serangan-serangan yang efektif untuk menghancurkan musuh.

Polisi tentu juga membutuhkan intelijen. Polri saat ini gencar memerangi teroris yang tentu juga menguasai ilmu intelijen. Selain untuk menumpas teroris Polri juga memerlukan ilmu intelijen untuk mengungkap kasus-kasus kejahatan, mencegah peredaran narkoba. Polisi juga memerlukan  ilmu intelijen untuk digunakan dalam pembinaan masyarakat (penggalangan).

Dunia bisnis juga memerlukan ilmu intelijen yang sekarang latah disebut bussiness intelligence. Beberapa lembaga bahkan sudah mengadakan training intelijen bisnis untuk perusahaan-perusahaan. Persaingan produk membuat perusahaan saling mengintai strategi kompetitor dan ini tentu akan lebih mudah jika menguasai ilmu intelijen.

Debt Collector alias tukang tagih  juga membutuhkan ilmu intelijen, selain untuk mengintai para pengemplang tunggakan, tukang tagih juga menggunakan strategi elisitasi untuk mengungkap keberadaan pengemplang tagihan lewat orang terdekatnya.

Jangan meremehkan juga kaum pemulung, walaupun tidak pernah menerima pendidikan intelijen mereka juga terlatih untuk menggunakan ilmu intelijen secara otodidak. Mereka bisa memperkirakan di mana terdapat barang-barang bekas dan di mana jumlah pemulung tidak banyak, sekaligus bagaimana cara mereka lari jika dikejar-kejar satpol PP. Penjahat juga menggunakan ilmu intelijen saat melakukan aksi dan saat menghindari jeratan hukum.

Ilmu intelijen sudah dipakai di mana-mana dan oleh berbagai kalangan. Ibarat sebuah senjata, ilmu intelijen adalah pisau dan tergantung penggunanya, apakah pisau mau digunakan untuk memotong 

kacang panjang, untuk mengupas mangga, atau untuk menyiangi ikan, atau menusuk orang?

Indonesia sedang dalam fase reformasi, salah satu produk reformasinya adalah bidang intelijen, tentu akan menyoroti dengan sangat awas aktivitas lembaga intelijen. Kesalahan sedikit saja dalam organisasi intelijen akan menjadi bulan-bulanan secara politis. Mempelajari dan berlatih teknik percakapan menggunakan elisitasi dan penyamaran dalam kegiatan klandestin merupakan hal penting bagi petugas intelijen karena hal itu merupakan salah satu langkah mencegah kegagalan operasi intelijen.

Dunia intelijen bisa dikatakan kejam. Petugas intelijen mempunyai  motto  “berangkat tugas dianggap mati, berhasil tidak dipuji, gagal dicacimaki dan diinterogasi, hilang tidak dicari, mati tidak diakui”, dan sekarang bertambah lagi dua frase  “kaya dicurigai, miskin salah sendiri”. Dari motto tersebut dapat disimpulkan bawa dunia intelijen hampir tidak ada enaknya, yang tersisa untuk dapat bertahan bagi seorang petugas intelijen adalah kebanggaan atas kepercayaan negara.

Tidak semua operasi intelijen berjalan sukses, bahkan ada operasi intelijen yang sudah dianggap sukses dikemudian hari ternyata terbongkar, dan akhirnya operasi ini menjadi gagal. Salah satu parameter kegagalan operasi intelijen adalah jika operasi tersebut diketahui oleh pihak lain (oposisi). 

Lalu apa implikasi gagalnya operasi intelijen?

Dengan reformasi demokrasi dan hukum di Indonesia maka gagalnya operasi intelijen akan berdampak pada jeratan hukum, petugas intelijen bisa masuk bui.
Jika penyebab utama kegagalan operasi intelijen adalah diketahuinya operasi tersebut oleh pihak luar maka harus dianalisis mengapa suatu operasi intelijen bisa diketahui dan menjadi konsumsi pihak luar.

Beberapa keumngkinan penyebab kegagalan operasi intelijen adalah :
  1. Perencanaan yang kurang matang, suatu operasi intelijen yang direncanakan dengan baik tidak dijamin operasi tersebut akan sukses, namun operasi intelijen yang direncaakan dengan tidak baik justru dijamin operasi tersebut akan gagal. Salah satu fase perencanaan dalam operasi inteligen adalah analisa sasaran dan analisa tugas. Petugas Intelijen yang sudah berpengalaman akan lebih mudah membuat analisa sasaran dan analisa tugas.
  2. Adanya pembelotan, kegiatan intelijen biasanya dilakukan dalam sebuah tim. Jika anggota tim ada yang berkhianat dan membocorkan operasi intelijen kepada pihak lain maka operasi tersebut dapat dipastikan gagal. Aksi ini bisa terjadi jika muncul ketidakpuasan anggota tim atau terjadi penggalangan dari pihak lain terhadap anggota tim.
  3. Adanya aksi kontra intelijen dari pihak oposisi. Kegiatan intelijen hampir dilakukan oleh semua organisasi sehingga muncul secara otomatis kegiatan kontra intelijen yaitu suatu kegiatan untuk menangkal operasi intelijen dari pihak lain. Dampak dari operasi intelijen yang gagal karena aksi kontra intelijen pihak lain sangat fatal. Sekali cover/kedok terbongkar maka dapat dipastikan karir petugas yang terbongkar akan habis.
Contoh operasi intelijen yang bisa dianggap gagal adalah operasi yang dilakukan oleh Tim Mawar, dengan maksud berniat baik dan melepaskan kembali aktivis yang telah diculik maka akibatnya adalah aktivis tersebut bernyanyi dan operasi Tim Mawar akhirnya terbongkar. Jeratan hukum menyerang Tim Mawar bahkan petingginya diberhentikan dari TNI. 

Kegagalan operasi Tim Mawar kemungkinan karena perencanaan terhadap opsi aktivis dilepas kembali kurang rapi. Atau justru petinggi Tim Mawar berniat baik dengan mengembalikan aktivis untuk kembali ke masyarakat, namun niat baik tersebut tetap menjadi hukuman yang menjadi resiko tugas seorang intelijen.

Salah satu cara mencegah kegagalan operasi intelijen adalah menerapkan teknik-teknik intelijen dengan benar. Teknik intelijen tersebut antara lain elisitasi dan penyamaran. Dengan menggunakan teknik yang tepat saat elisitasi dan memanfaatkan kedok yang tepat saat penyamaran, minimal hal tersebut merupakan langkah awal dari operasi intelijen yang dilakukan dengan teknik yang benar.

Operasi intelijen tidak boleh terbongkar, untuk itu petugas intelijen dicari dari manusia yang cerdas supaya kreatif mampu mencari pemecahan masalah yang menghadang. Petugas intelijen harus loyal, berintegritas, dan bermental baja supaya tidak mudah “menyanyi” yang berakibat terbongkarnya operasi.

Namun tidak boleh hukuman langsung ditimpakan kepada petugas intelijen jika operasi intelijen mengalami kegagalan. Jika ada seorang petugas intelijen yang gagal dalam melaksanakan tugas maka sebaiknya petugas tersebut dididik / disekolahkan lagi. Memberi hukuman dan menyalahkan secara kaku justru akan membuat petugas tersebut sakit hati dan ini merupakan peluang besar bagi pihak oposisi untuk merangkulnya.

Dengan sering berlatih dan melakukan operasi intelijen maka seorang petugas intelijen, (analis atau agen) dapat melakukan tugasnya dengan baik.  Tentu saja berlatih dengan metode dan teknik yang tepat.


Kamis, 07 Mei 2015

Logo Universitas Gunadarma



Arti Dari Setiap Logo Universitas Gunadarma :

·         Tangkai Obor Berdiri Tegak
Melambangkan keteguhan hati untuk menyumbangkan
dharma bakti kepada Nusa dan Bangsa

·         Cawan Obor yang Melebar dan Cekung
Adalah wadah dari ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam

·         Kobaran Api yang Kuning Keemasan
Menunjukkan semangat juang yang tak pernah padam dalam menuntut
ilmu dan menyumbangkannya kepada masyarakat

·         Bentuk Lingkaran yang Berwarna Ungu
Adalah suatu bentuk geometris yang memberi ciri pada
ilmu pengetahuan yang ditekuni dan dikembangkan

·         Bingkai Segi Lima
Menyatakan bahwa Universitas Gunadarma berazaskan Pancasila



Sebuah Ungkapan hati


Ketika emosi mengalakan logika
Ketika perasaan tidak lagi satu dengan  jiwa
Ketika ucapan tidak lagi bermakna
Ketika rasa cinta telah berubah menjadi benci
Ketika moral tidal lagi berarti
Waktu itulah akan aku katakan aku ingin pergi
Agar semua rasa yang terbebani
Ikut bersemayam dalam jiwa yang telah mati

Depok 2014

“English Word Dislocation”


ü  Blackberry
Black berry sense of the word is a black berry fruit, but this term is used to brand a mobile phone.

ü  Fly
The real meaning of fly is like flying in the sky like a bird or airplane. But fly also mean when you’re drunk, under control of drugs or alcohol.

ü  Play Boy
This word means the boys are playing, but the term can be interpreted a man who has a lot of women.

ü  Cat walk
This is the meaning of street cats, but the actual term of this word is used to introduce a model contest clothing or other products.

ü  Sunlight
Sunlight is the actual meaning of the word, but this term is a brand of dishwashing soap.

ü  Hot Dog
The hot dog is the name of the food, but the word is actually a hot dog.

Sabtu, 28 Maret 2015

Tugas Bahasa Inggris 2

UNDERSTANDING CULTURAL DIFFERENCES IN INDONESIA AND AMERICA

COMPARISON OF INDONESIA AND AMERICAN CULTURE:

• TIME

The American people greatly appreciate the time, they never ignore the time and they say time is money. time is very important to them and they are very timely. while Indonesia was a very not appreciate the time. Indonesian often do something that is not important so it is a waste of time, they are rarely on time and always gain time, that's the culture of Indonesia

• EDUCATION

Americans strongly support the educational knowledge. they do not care if they get the value of a low value that is not a problem for them, and they are more concerned with knowledge of the value of a good or bad. of research they made contact with their teachers, lecturers or professors lecturers. teachers can build relationships with students outside the classroom, but in their class to hold opinions. while education in Indonesia is very different from education in America. if they get good value from the knowledge of students. In Indonesia one is cheating on tests, Indonesia just plagiarizing written work.

• INVITATION

Invitation difference Americans and people of Indonesia are very different. in America the first invitation produces no appointment and no more than a "polite" people of the United expression.And invite someone they have to defermine, when, where, what time, etc.Mean while the Indonesian people are very different if an invite to arrived at his house even though only an expression but an appointment for them. So, they did not say when, where, what, when, they will soon come.
they do not care about questions like that, that they were important: come keundangan.

• POLITENESS

Indonesia mostly taken from Islamic religious modesty
eg eat with your right hand, it includes politeness, because most Moslem Indonesia. so they are sensible according to his religion.
if other countries (United States) was free, even Caucasian people when there is a nude beach does not mean he wanted to change clothes or shower but naked (without clothes).
religion of Islam teaches politeness one should not arbitrarily change clothes in place.
even in the religion of Islam teaches close the genitals.

• CLEANLINESS


In America they are maintaining the cleanliness, especially in their kitchen because when you come in their house, they will invite you in and show all her household. While in Indonesia is very concerned about cleanliness, sometimes when we invite someone to show the contents of the house, they do not respond because the situation does not allow.

Refrensi : http://syaifulcintaimm.blogspot.com/2012/01/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html